selalu merindukanmu ibu

udara cukup gerah malam ini
kubuka jendela kamarku lebar-lebar
agar udara pengap yang berputar tak karuan di dalamnya
dapat bertukar tempat dengan udara malam yang tersedia  bebas di luar sana

baru saja kututup telponku selepas berbicara dengan ibu
kutanya sedang apakah beliau, dan ternyata ibu baru saja pulang dari dokter
badan serasa kesemutan, begitu keluh beliau
dan ternyata diagnosa dokter mengatakan bahwa tekanan darah ibu sangat tinggi
jangan terlalu banyak pikiran, dan jaga hati-hati makanan yang diasup oleh tubuh
agar tekanan darah tidak terus naik meninggi, begitu nasihat pak dokter pada ibu

aku pun bertanya, apakah yang sedang engkau pikirkan ibu
seberat apakah bebanmu sehingga berdampak sangat drastis pada kesehatanmu
ibupun berkelit,
tidak ada apa-apa anakku
mungkin ibu terlalu banyak makan santan, itu saja
karena selama bulan puasa ini ibu kurang nafsu untuk makan
sehingga ibu terpaksa memasak sayuran bersantan yang sekiranya memanjakan lidah
meski sebenarnya berakibat buruk pada kesehatan sendiri
mulai besok ibu akan mencoba memasak sayur bening dan daun ketela rebus saja
meski rasanya tidak enak, biarlah demi menjaga agar tekanan darah ini tidak semakin naik dan meninggi
begitu ucap ibuku lirih, beralasan dan berargumen agar anak gadisnya tidak merasa resah

ah ibu,
maafkan aku yang tidak bisa berada di samping engkau untuk merawatmu
tidak sepertimu yang selalu ada di sampingku setiap aku merengek menangis  melawan penyakit kecilku

teringat aku semasa masih kuliah dulu
ketika radang tenggorokanku sedang kambuh, dan aku benar-benar tersiksa sendiri di dalam kamar kosku
aku tak bisa merintih, tak bisa mengadu
hanya terdiam menangis membisu
kukabarkan pada ibu bahwa aku sakit
dan meminta doa agar diberikan kesembuhan

dan malam itu, tiba-tiba pintu kosku terbuka
sosok yang kudamba itu datang menjemputku,
ya, ibuku
berdua dengan bapak yang baru saja rapat dari cepu
dan mereka tidak langsung pulang ke kudus melainkan menempuh perjalanan panjang ke semarang untuk mengambilku
muka letih mereka menguraikan air mataku
inilah wujud kasih orang tua yang sebenar-benarnya
tak mempedulikan badan mereka yang letih termakan usia
bagi mereka anak adalah segalanya

namun sayang prinsip itu tak berlaku bagi sang anak
yang tak mampu memiliki prinsip yang sama bahwa orang tua adalah segalanya

ada beribu alasan dan pembenaran diri untuk mengatakan bahwa
terlalu sedikit waktu untuk orangtuaku, terlalu sempit kesempatanku, sungguh terlalu egois diriku

apa yang pernah dilakukan oleh ibu dulu kini tak bisa kubalas olehku
maafkan aku ibu…

tak mampu kutembus jarak lampaui waktu untuk berada di sisimu
ringankan bebanmu, usir sakitmu, halau kesedihanmu

hanya doa yang mampu kupanjatkan pada sang khalik
untuk menjaga ibu dan bapak dengan baik
aku telah titipkan kalian berdua padaNya, ibu
karena Dia lah maha penjaga yang sebenar-benarnya
maafkan aku yang tak bisa menjaga kalian dengan sepenuh ragaku

duhai ibu,
beristirahatlah malam ini, minumlah obat itu dan buang jauh bebanmu
semoga kesembuhan lekas datang menghampirimu
dan bisa segera kembali segala keceriaanmu

aku selalu merindukanmu, ibu…

 

————————————————————
ditulis semalam tapi baru diposting pagi ini
djakarta, 8 september 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s