mencoba mengertikan lara bocah mungil itu…

kejadiannya begitu cepat,
aku sendiri tak begitu yakin tentang apa yang sedang kualami
kemarin pagi ayah tampak biasa-biasa saja,
aku masih sempat berpamitan dan mencium punggung tangannya yang menghitam sebelum aku berangkat sekolah pagi itu
namun malam harinya, tiba-tiba ayah mengejang
sesak nafas,
tersengal-sengal ia panggil ibu yang sedang berkutat dengan setumpuk piring kotor di wastafel
namun tak banyak yang ibu bisa lakukan untuk kurangi sakit ayah
ia hanya bisa menangis, memeluk erat tubuh ayah yang melemah di atas sofa
samar ibu mendengar ayah berbisik lirih padanya,
“bu, maafkan aku yang tak bisa bertahan lebih lama lagi.
sakitnya sungguh meluluh lantakkan pertahananku.
aku titipkan anak-anak kita padamu.
aku mencintaimu bu…”

 

ibu semakin tenggelam dalam air matanya,
dan aku hanya terduduk lemas di pintu kamarku
menyaksikan pemandangan pilu malam itu
berbagai pikiran berkelebat melintas tak beraturan di otak
dan aku belum mampu merapikannya
semuanya masih terlihat acak dan semu

 

*****
pagi itu, tubuh ayah yang sudah membeku
terbujur kaku di sudut rumah nenek di kampung sebelah rumahku
banyak sekali sanak saudara berdatangan
berpakaian hitam, seolah dalam hitam mereka ada sendu
padahal gelap itu menambah sesak dadaku

 

mereka menyalamiku, mengelus rambutku, menepuk dadaku
berpikir bahwa tingkah mereka dapat menghiburku
tidak, kalian salah menilaiku

bukan itu yang bisa hentikan air mataku
salaman itu, belaian itu, tepukan itu
takkan bisa mengembalikan nafas ayahku

 

waktu terus merambat terseok siang itu
mengiringi tubuh ayah menuju sirkuit terakhirnya untuk dituju
sepanjang jalan di sisinya aku sibuk menata serpihan perihku
awan kelabu menggantung rendah di atas kepala
berarak menuju tanah merah basah berpayung daun kamboja yang terlihat berwarna biru di mataku
dan perlahan ayahku pun menghilang di baliknya,
meninggalkanku yang menggigil di atasnya
ingin berteriak, tapi lidah ini merajam kelu

 

******
sehari, seminggu, sebulan telah berlalu sejak hari kelabu itu
dan aku masih juga tak mampu menganalisa
tentang apa yang harus kulakukan tanpa lelaki tangguhku itu
ibu terlalu letih mengurus kedua adikku yang masih manja,
dan aku tau, aku tak boleh terlalu egois dengan menambah bebannya dengan manjaku

 

ingin aku berlagak seperti orang dewasa yang mampu menentukan sikap dan perilaku
namun raga ini masih terbelenggu dalam wujud bocah mungil berusia sebelas tahun
yang bahkan belum mampu mengeja beberapa kata rumit dan menyelesaikan soal logaritma atau aljabar

 

ayah, ayah, ayah
dimanakah kamu ketika aku butuh petunjukmu?
teriakku selalu dalam malam-malam sepiku…

 

*****
kebingungan ini hampir mencapai garis batas yang mampu ditampung di kepala
lewat sedikit saja, cairannya akan menjadi luber memenuhi rongga
tingkahku semakin menjadi melawan bingung yang hampir meledak di ujung kata
menahan agar cairan itu tidak luber yang dapat menyulut gila

 

kupukul ibu, kujambak nenek, kutendang kakek, kubanting adik
ketika kebingungan ini menyekapku erat hingga bernafaspun aku tak mampu
dan mereka hanya terdiam menyelami tingkah menyebalkanku
membuatku semakin tenggelam dalam cairan bingung itu

 

*****
mengapa kalian diam? mengapa tak bantu aku mengenyahkan bimbang ini?
ayah dimana? mengapa juga ikut diam saja?
bagaimana aku harus hadapi hidup dengan diam kalian itu?
aku masih punya telinga, jadi tolong teriaklah sekerasnya memakiku
silakan caci aku! itu yang aku mau!
tapi setelahnya, bantu aku memutar kelasiku menuju jalan yang kalian ingin itu
jalan tuhan yang katanya baik untukku

 

mana?  mana? mana?
aku tak lihat jalan macam itu di gelap mataku
karena kau tutup erat mata ini dengan memenuhi semua rengekku
dan itu semakin membutakanku

 

*****
ah…
letih sudah aku mencoba mengambil hati kalian
dan kalian pun tak juga mampu mengerti inginku

 

biarlah aku bercumbu saja dengan bayang ayahku
di bawah pohon rindang di depan rumah
aku akan memanggil ayah untuk bermain bersama denganku
biar hilang bingungku
biar bisa kupinta petunjuk pada ayah tentang langkahku
biar aku bisa mengadu
karena hanya ayahlah yang mampu mengertikanku

 

ayah,
ayo kesini
bermain melipat kertas dan menggambar pohon
seperti yang sering kita lakukan dulu

 

kutunggu disini ya ayah
datanglah jika kau ada waktu
aku akan selalu menunggumu
karena
aku selalu merindukanmu
lelaki yang selalu memiliki sinar dalam matanya untuk menyejukkanku

 

*****
djakarta, 15 september 2009
mencoba mengertikan lara bocah mungil itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s