doka.ku

my lil doka

my lil doka

benda itu mungil sekali,
berbulu lembut dan matanya hitam
badannya selalu bergerak-gerak setiap ku mencoba menggendongnya
perutnya yang empuk selalu berdenyut-denyut, seakan seluruh isinya adalah jantung

kunamai ia doka,
kado untuk ulang tahunku yang ke seperempat abad ini
dari keluargaku
mereka memberiku lengkap dengan sebuah kandang mungil berwarna pink
berikut satu kotak makanan dan satu plastik serbuk gergaji

pertama kucoba memegangnya, rasanya geli sekali
tapi melihat kakak dan adikku asyik memainkan tubuh doka yang bulat, akupun menjadi iri
dan berusaha menepiskan rasa geli agar dapat ikut merasa getar tubuh doka yang masih sangat kecil saat itu
perlahan akupun mulai berani memegangnya,
mengeluarkannya dari kandang untuk membersihkan sarangnya ketika sudah mulai terkotori oleh ‘pup’nya yang hitam kecil seperti biji kedelai
menimangnya dari tangan kanan ke tangan kiri, bergantian
membuatnya terloncat-loncat gembira dari satu tangan ke tangan lain
menaburkan bedak bayi di seluruh permukaan bulunya agar tidak berkutu
terkadang mencoba membalikkan tubuhnya untuk melihat apakah bulu bagian bawahnya baik-baik saja, tapi sepertinya doka tak begitu menyukainya
karena ia akan selalu berusaha membalikkan badannya ke posisi semula

satu bulan, dua bulan
doka mulai makan banyak
dia suka sekali popcorn,
jadi terkadang aku buatkan popcorn instant yang akan langsung ia lahap begitu aku sodorkan di pintu kandangnya
kuaci juga ia suka, tapi bukan kuaci murahan yang pernah kubeli di toko pakan hewan di pasar dekat rumah nenek

doka lebih suka kuaci yang kubeli di carefour, karena bentuk kuaci itu lebih besar dan isinya lebih banyak
atau kuaci yang dibelikan adikku di petshop di bandung,
yang sayangnya tidak bisa kutemukan disini karena aku tidak begitu mengetahui letak petshop di sekitar jakarta

setiap aku pulang kerja, dia akan melongok penasaran dari dalam sarangnya
kepalanya ia julurkan keluar, mencoba mencari perhatianku
mungkin ia jenuh dengan kesepian yang ia rasakan di dalam kandangnya,
yang harus ia hadapi hari demi hari

terkadang kelelahan yang amat sangat menderaku,
membuatku sering tak memedulikan kesepiannya
aku hanya melihat apa yang sedang doka coba lakukan untukku,
tapi kemudian aku abaikan
dan akupun kembali terbelit dalam kesibukanku sendiri
dan mengabaikannya

tapi akhir-akhir ini selera makan doka sangat menurun
popcorn instan yang biasanya ia suka, kini ia acuhkan begitu saja
setiap aku sodorkan kuaci di pagi hari sebelum berangkat kerjapun tidak ia santap,
hanya ia endus dengan hidung mungilnya untuk kemudian ia tinggalkan begitu saja
aku pikir, mungkin doka tidak begitu menyukai jenis kuaci baru yang kubelikan kali ini
nantilah aku ganti jika kuaci itu sudah habis, akan kubelikan kuaci kesukaannya yang biasa kubeli untuknya dulu

aku perhatikan bulu di sekitar kakinya juga berkurang,
ada kulit halus tanpa bulu yang tersembul disana
adikku yang pertama melihatnya,
dan dia menyarankanku untuk memeriksakan doka ke dokter
tapi kupikir itu biasa
mungkin doka stres karena harus menemaniku menempuh perjalanan jauh untuk mudik lebaran tahun ini

semalam sebelum aku kembali ke jakarta,
aku sempat bermain dengan doka
aku taruh badan berbulunya di tanganku
dan kuelus perlahan dari ujung kepala ke ujung kaki
anehnya, kali ini doka diam saja, seperti menikmati belaianku dalam-dalam
matanya terpejam, dan tubuhnya pun diam
tidak berdenyut-denyut seperti biasanya
kakinya ia buka lebar-lebar, memenuhi ruas telapak tanganku
satu kecurigaan terbersit di benakku, apakah ini akan menjadi malam terakhir aku bermain dengannya
tapi kemudian aku tepis jauh-jauh anganku,
aku yakinkan bahwa semua akan baik-baik saja dan seperti biasanya

esok paginya sebelum aku berangkat ke jakarta,
aku sempatkan untuk memberinya cukup makan dan minum
sebelum aku taruh kandang pinknya dalam tas parasut hitam yang telah ibu buatkan khusus untuk doka
kutaruh doka di kursi belakang pak supir
dan seperti biasa,
aku pun kembali sibuk dengan diriku sendiri

24 jam lebih doka berada di dalam mobil dan aku lupa sama sekali untuk menurunkannya
perjalanan jauh yang ia tempuh bersamaku,
goncangan-goncangan yang ia alami bersamaku,
kegelapan yang harus ia lalui dalam hitam tas itu bersamaku,
hanya demi bisa bersamaku
ternyata kuabaikan begitu saja

demi tuhan, aku lupa menurunkannya dari mobil pagi ini
aku berlalu begitu saja, sibuk dengan sebuah tes yang harus aku jalani
lupa kutitipkan pesan pada kakakku yang membawa mobil ke kantornya
untuk menurunkan doka atau memberinya makan selagi doka jauh dariku

lupa,
malas,
abai,
acuh,
atau apalah itu

yang pasti,
aku telah membiarkan doka sendirian dalam gelap
membiarkan doka terserang panas di dalam mobil,
tanpa cahaya tanpa udara

dan ketika kakakku datang malam ini,
ia bertanya apakah aku yang meletakkan doka di bagasi
spontan kujawab tidak, karena aku yakin telah menaruh kandangnya dengan baik di jok belakang
dan kakakku pun berkata lirih,
bahwa doka telah tiada

kupikir ia hanya bercanda,
dan ketika aku melihat ke dalam bagasi dan kutemukan tas hitam itu
kakiku pun perlahan lemas tak berdaya
kuturunkan kain itu perlahan,
dan kulihat doka disana sudah tak bernyawa
badannya terlentang kaku,
berwarna hitam
tak sempat kulihat matanya, hidungnya, kumisnya, atau mimik mukanya yang lucu untuk terakhir kali
karena mataku sudah kabur basah oleh air mata
terduduk lemah aku berpegangan di bagasi,
menyalahkan diri sendiri
karena KEMALASANKU lah satu nyawa mahluk hidup ciptaan tuhan meregang maut dan pergi begitu saja

tak sanggup aku mengubur mayat doka yang sudah membeku
aku titipkan jasadnya pada kakakku untuk dimandikan dan dikuburkan di halaman rumahnya
agar sewaktu-waktu aku dapat menengoknya jika aku rindu

tuhan,
maafkan aku yang tak sanggup menjaga makhluk mungil itu
ternyata sungguh berat menjaga amanahMu
jika aku harus menanggung dosa karena telah menghilangkan satu nyawa ciptaanMu,
aku rela tuhan
karena ini memang kesalahanku
tapi aku mohon,
tolong istirahatkan doka dengan tenang disana
semoga ini memang yang terbaik untuknya

dan untuk doka,
makhluk mungil sahabatku
satu-satunya teman di kamar sempitku
yang selalu setia menemaniku
setia menungguku
setia menjadi temanku
setia mendengarkan keluh kesahku
maafkan aku yang tak mampu menjadi kawan baikmu
sungguh, aku menyesal telah mengabaikanmu
selamat jalan doka
jika tak kau temukan jodohmu di dunia (dan itu lagi-lagi karena kemalasanku untuk mencarikan hamster jantan yang sesuai dengan kriteriamu)
semoga tuhan akan berikan satu hamster jantan baik di sana untukmu berbagi cerita
aku akan selalu merindukanmu sahabat mungilku…

djakarta, 26 september 2009
sebuah hari yang maha berat untukku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s