hujan pertama

hujan masih turun rintik-rintik di luar sana
baru saja aku lakukan sekilas pandangan mata, dan dari kaca jendela ruang rapat itu
aku dapat melihat air sungai yang beriak kecil di seberang sana

hujan malam ini merupakan yang pertama,
barangkali hujan perdana untuk memulai satu musim hujan akhir tahun ini
setelah sang panas lelah terus menerus memanggang penduduk jakarta dalam cengkeraman cahayanya

jalan tol di depanku terlihat padat merayap,
warna-warni lampu kendaraan terlihat indah membaur dengan rintik hujan
keduanya berpadu menjadi satu rona kilau yang berwarna kuning keemasan, memesona
lampu gedung bertingkat di seberang sana juga memancarkan kemilau yang serupa
membuatku ingin merangkum dalam satu bingkai gambar untuk abadikan damainya

yah, beginilah pemandangan jakarta kurang lebihnya
kota yang menawarkan impian dan celaan dalam satu hempasan
siapa yang kuat dapat bertahan,
siapa yang lemah akan segera tersingkirkan

dan disinilah aku terjebak dalam hujan
terkurung dalam bingkai tembok, menjadi tawanan dalam bangunan
aku takut dengan gigil kedinginan yang ditawarkan di luar sana
dan aku takut menembus beku air yang tercurah dari langit

jadilah aku masih bercumbu dengan keyboard dan monitor,
coba untuk musnahkan jenuh yang terkadang datang tanpa sapaan
kubuat tulisan ini sekedar untuk membunuh waktu
demi detik yang terus melaju tanpa lelah dan ragu

tapi tak dapat kucium bau wangi tanah yang terbasahi oleh rintik hujan
seperti yang sering kutemui ketika kecil dulu
bermain bersama kakak dan tetangga berlumuran lumpur bermain bola di lapangan depan rumah
tak pernah ibu melarang kami untuk bermain di bawah siraman hujan
karena beliau percaya bahwa kami takkan menjadi bodoh hanya karenanya
atau menjadi sakit setelahnya
bahkan kami menjadi kuat atasnya
karena bermain hujan itu seperti menanam satu imun kedalam tubuh kecil kami
untuk kebal terhadap sakit yang ditimbulkan setelah hujan mereda

bau tanah itu,
terkadang menyerangku
seakan menantang
untuk kembali bermain dengannya
berdansa dalam nyanyian hujan
bersama tanah basah itu

hujan kali ini,
membasahi tepat rongga hatiku yang sedang meranggas melayu..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
aminta, 2 oktober 2009 – 20.05 pm
ketika hari batik nasional pertama kali dirayakan

rintik hujan dari bingkai jendela

rintik hujan dari bingkai jendela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s