meraih mimpi

 

tertarik dengan promosi yang sempat ditawarkan oleh marketing team meraih mimpi’ di acara kick andy yang pernah ditayangkan di m*tro tv, maka akupun memiliki mimpi untuk dapat menikmati film buatan indonesia itu kelak jika sudah ditayangkan di bioskop-bioskop seluruh indonesia

 

sebenarnya film itu sudah mulai diputar sejak liburan lebaran bulan lalu, tetapi karena kesibukan acara keluarga kala itu maka aku tak bisa menyempatkan waktu untuk menontonnya

 

dan rupanya tuhan baru memberikan kesempatan padaku untuk menontonnya ketika aku sedang berlibur di bandung bersama adikku tujuan utama adalah BIP, karena selain menonton aku juga ingin mencari kipas pendingin untuk laptopku yang kata adik banyak tersedia di BEC, pusat elektronik yang terletak tidak jauh dari BIP.

 

tapi ternyata film itu sudah tidak diputar di BIP.
entah karena sudah terlalu lama, atau memang hanya sedikit penontonnya sehingga tidak memberikan benefit apapun pada pihak pemilik bioskop untuk tetap memutar film itu. kami pun mencoba ke ciwalk, dan hasilnya pun sama saja alias nihil. film ‘meraih mimpi’ sudah tidak diputar di pusat perbelanjaan modern tersebut.

 

setengah putus asa, kami mengecek situs www.21cineplex.com di handphone untuk mengetahui jadwal penayangan film di BSM, barangkali mereka masih memutarnya. dan yep, kami beruntung karena ternyata judul dan jadwal pemutaran film ‘meraih mimpi’ terpapar jelas di layar handphone

 

jadwal pemutaran film terdekat adalah 17.45. dan jarum panjang jam casio-ku menunjukkan tepat angka 4. ah, masih ada 1 jam 45 menit bagi kami untuk berlari dari ciwalk menuju BSM dengan menggunakan kendaraan super cepat, alias angkutan kota = angkot (super cepat = super cepat menghindar lampu merah tetapi super lama ngetem untuk menunggu penumpang penuh)

 

4 kali kami harus berganti angkot,
pertama dari ciwalk ambil jurusan kalapa
lalu kalapa ke kordon (lupa angkotnya warna apa dan nomer berapa, karena terlalu asyik menyeruput es cendol)
dari kordon jalan kaki sedikit hingga pertigaan pasar, lalu naiklah angkot warna coklat berangka sembilan
dari angkot coklat ini terus saja hingga ke perempatan
lalu turun dan oper ke angkutan berikutnya yang berwarna hijau
dan sampailah kami di BSM

 

langsung kami menuju bioskop untuk mengejar waktu
dan ketika sampai di lobby XXI, mba-mba bersuara seksi sudah meneriakkan bahwa teater 4 telah dibuka, dan bagi pengunjung yang telah memiliki karcis dipersilakan untuk memasuki ruangan

 

dan wah, ternyata film ‘meraih mimpi’ diputer di studio 4,
yang berarti bahwa kedatangan kami sangat on time sekali!
langsung saja kami menuju konter tempat penjualan karcis, dan dua tiket berwarna kuning sudah berpindah tangan dalam genggaman kami

 

segelas hot chocolate kami pesan sebelum kami serahkan tiket kuning itu kepada mba-mba penjaga pintu

 

daaan,, tadda…
hinggaplah kami di kursi nomer D7-8 dan duduk manis di kursi berwarna biru
sayang ruangan bioskop terlihat sedikit kotor dengan beberapa makanan yang masih terserak di sekitar kursi dan lantai sandaran bangku depan pun terlalu tinggi sehingga jangkauan pandang kami lumayan sempit
suara? jauh dari stereo

jika dibandingkan dengan pejaten XXI yang sama-sama berlabel XXI,
mungkin seharusnya kami hanya membayar setengah dari harga yang ditawarkan oleh pejaten mengingat bahwa kualitas yang kami dapat juga hanya setengah😦

tapi tak apalah, kami disini kan untuk menonton film
bukan untuk mengkritisi sebuah bioskop

 

dan film pun diputar
dan protes pun berlompatan tak beraturan di kepala
dan tangan ini pun menjadi gatal untuk menuliskan beberapa kekurangannya:
– warna yang digunakan di film ini terlalu banyak unsur kuning
  mulai dari pohon, tanah, kulit tubuh si pemain, daun, semuanya berunsur kuning yang cukup menyilaukan mata
– ternyata film itu dubbingan!

film yang katanya dibuat oleh anak negeri untuk bangsa sendiri ternyata masih mementingkan nilai komersil di dalamnya, karena film itu sebenarnya (katanya) dibuat untuk singapura sebagai pihak pemesan, sehingga mimik bibir mereka adalah menggunakan bahasa inggris dan bukan bahasa indonesia. aneh sekali melihat film bangsa yang tidak menggunakan bahasa sendiri, seolah tak ada bedanya dengan ketika kita menonton shinchan, detective conan, sailor moon, dsb
– terlalu banyak logat bahasa daerah yang digunakan

si kakatu menggunakan bahasa melayu, si tokek menggunakan bahasa tegal, si kijang menggunakan bahasa tionghoa, si kelelawar menggunakan bahasa gaul jakarta. memangnya mereka sedang tinggal dimana hingga mengalami percampuran budaya? sebenarnya setting tempat itu dimana? keragaman bahasa yang digunakan   menjadikanku bingung dengan settingan tempat yang sebenarnya dituliskan oleh penulis naskah dalam skenarionya
– masih tentang dialog, pengucapan kata-kata dari para tokohnya terlalu cepat sehingga sulit dimengerti
mungkin karena saya orang jawa yang terbiasa mendengar tutur kata yang halus dan pelan, sehingga harus memeras otak untuk dapat mengerti apa yang sebenarnya sedang disampaikan oleh sang tokoh dengan kalimatnya yang berentetan seperti petasan cina
– dana dan rey yang kakak beradik itu duduk di ruangan kelas yang sama, mengerjakan soal ujian yang (sepertinya) sama, untuk berlomba mendapatkan beasiswa   yang (sepertinya) sama pula! memangnya tidak ada jenjang pendidikan di daerah tersebut? atau memang seperti itukah bentuk sekolah yang terdapat di pelosok pedesaan sana?
– wajah monyet yang ikut rey dalam petualangan mencari surat wasiat berwarna ungu. memangnya monyet itu sedang keracunan?

 
namun dibalik daftar kekurangan yang berderet manis di atas, terdapat pula beberapa daftar kebaikan yang sempat terangkum di ingatanku:
– tokoh bapak yang sering menggunakan kaos kutang dalam aktivitas sehari-harinya mencerminkan keadaaan seorang bapak-bapak yang sebenarnya.
even my dad also used to use it when repairing his car or taking a nap in the afternoon ^_^
– nenek digambarkan sebagai seorang tokoh bijak, bukan tokoh antagonis yang banyak terdapat di sinetron-sinetron murahan indonesia
dan memang seperti itulah seharusnya sosok nenek yang harus diperkenalkan kepada anak-anak indonesia, agar mereka dapat lebih mencintai generasi yang lebih tua dari mereka
– meski berasal dari keluarga miskin, dana mampu meraih beasiswa. ini berarti bahwa kesuksesan tidak selalu harus berbanding lurus dengan nilai materi yang dimiliki
– rey yang penakut rela melawan ketakutannya demi menemani dana mencari surat wasiat yang hilang. itulah yang seharusnya dilakukan oleh anak laki-laki terhadap anak perempuan.
 yaitu melindungi, meski terkadang terdapat selisih usia tetapi tetap saja harus lelaki yang menjadi jagoan. bukan si perempuan!
– dana yang menolak rencana ayahnya untuk dijodohkan demi mewujudkan mimpinya.
 menjadi anak yang baik bukan berarti harus menuruti semua yang dikatakan oleh orang tua, terkadang harus berani melawan
 jika itu bertentangan dengan hati nurani. meskipun kurasa aku lebih sering menentang daripada menuruti kata orang tua, dan itu semata demi   mempertahankan idealisme yang tak berdasar🙂

 
demikian sajalah yang dapat kuungkap dari pengalaman menonton ‘meraih mimpi’. tak banyak lagi yang dapat kupaparkan disini.
selebihnya silakan tonton sendiri dan bagikan pengalaman kalian disini.

jangan lupa untuk selalu menghargai hasil karya anak bangsa ya!

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
aminta, 5 oktober 2009
ketika mendung berkongsi dengan senja = suram meraja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s