hujan malam ini

semalaman jakarta diserbu rinai hujan,

dari semenjak lepas ba’da magrib hingga pagi dini ini
bulir-bulir air itu masih menetes dari langit
satu persatu, acak tak berurutan
tergantung siapa yang ingin jatuh bebas terlebih dahulu mencium tanah
dipersilakan secara sukarela menjatuhkan dirinya ke bumi

bulir-bulir air itu serupa yang menetes dari langit mataku,
satu-persatu, acak tak berurutan
kucoba tahan sekuatnya, tetapi terlalu berat untuk tertampung di pelupuk mata
perlahan tapi konstan
berjatuhan
menawan

aku yang sekeras batu,
ternyata rapuh ketika bersinggungan dengan cinta
aku yang sekuat kartini,
harus menunduk kalah pada sepi

maaf,
aku disini tak sedang ingin mengiba lara
tapi perih ini benar sungguh tak tertahankan,
luka yang tercipta sudah menganga terlalu lebar
dan hanya keajaiban tanganmulah yang mampu pulihkan pilunya

sayang kau tak tanggap,
tangan hangat itu terus kau sembunyikan dalam-dalam di saku celanamu
tak terlihatkah olehmu luka ini begitu nyata?
harus berapa lama aku menunggu hingga menjadi sekarat lalu mati?
atau haruskah kutarik perlahan tanganmu itu dari saku celana,
kemudian menaruhnya tepat di atas luka
agar kau dapat sedikit merasakan betapa dahsyat sakitnya?

sebenarnya,
pedulikah kau dengan lukaku ini…

PS : gambar diunduh dari http://www.bloggaul.com/mujahid_bertopeng/pic/mujahid_bertopeng_1282006102526AM_rain2.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s