minggu keempat

 

view from my office window

bali.
sabtu.
siang.
cerah.
berawan.
angin semilir.
minggu keempat.
februari.

beginilah suasana kantorku di sabtu siang saat bapak kepala sedang tidak berada di ruangannya
sepi, beberapa karyawan tidak menampakkan batang hidungnya
hanya suara televisi yang berdenging keras dari atas lemari besi
ditimpali desing kipas angin yang berputar tak jelas, mungkin mencari jati diri

kaca transparan di depan mejaku menggambarkan cerahnya suasana di luar sana
langit biru, awan putih, pohon hijau, atap genteng coklat
bersinergi membentuk satu lukisan indah

baru saja jam dinding berbunyi satu kali,
yang berarti menunjukkan jam setengah,
oh, ternyata sudah jam setengah satu disini
waktunya untuk makan siang
menyerbu dapur untuk mengintip apa yang hari ini koki sajikan

tapi kaki ini terlalu malas untuk turun ke bawah,
perut masih terasa penuh oleh nasi kuning yang kami beli di pinggir jalan tadi pagi
dengan harga yang cukup murah
(6 ribu sudah termasuk ayam dan telur)
rasanya masih enggan perut ini untuk diisi kembali
tunggu sajalah sejenak hingga buliran nasi kuning tercerna dengan baik,
sebelum diisi ulang dengan pasukan nasi selanjutnya

hanya sekedar ingin berbagi,
tak terasa sudah memasuki 4 minggu berada di bali
sebuah pulau asing, terpencil, tak memiliki secuilpun saudara disini
dan rasanya sungguh, sungguh, sungguh,
seperti berada pada titik terendah sebuah siklus kehidupan
berkubang dalam kesendirian

sahabatku mencoba menghibur hati dan memberikan secuil nasehat
ia berkata, kesendirian adalah proses pendewasaan
dalam sendiri, kita akan lebih peka merasa kehadiran Tuhan
dalam sakit, kita akan mendekat meminta penawar pada Tuhan
dalam hening, kita akan mengenal Tuhan

ah, mungkin ia benar
aku harus mencoba berkompromi dengan kesendirian
akan kucoba mencumbunya perlahan
agar kesendirian ini berubah
dari menyakitkan menjadi sejuk mendamaikan
bismillah…