dulu sekali

 

suasana pabrik yang dulu kunikmati tiap hari

dulu sekali,
setiap hari jumat pagi
dalam perjalanan menuju pabrik
tempat aku mengais sesuap nasi,
aku disuguhkan pada satu pemandangan pilu
melihat para pegawai negeri yang sedang menggerak-gerakkan badannya
di sebuah tanah lapang
mengikuti gerakan instruktur, melakukan senam pagi
dengan kaos olahraganya yang berwarna putih
terlihat kontras dengan warna lapangan yang berwarna hijau

sama kontrasnya dengan keadaanku kala itu,
harus berpacu dengan waktu
agar tidak terlambat sampai di depan gerbang pabrik
terlambat lima menit saja akibatnya akan panjang,
harus naik ke ruangan minta tanda tangan supervisor,
naik lagi ke ruangan lain untuk minta tanda tangan HRD,
lalu menyerahkan kertas ijin terlambat itu kepada sekuriti
di halaman belakang pabrik
yang jika dihitung kilometernya,
mungkin perjalanan yang kutempuh untuk mengantar surat itu
sama dengan satu kali keliling lapangan sepak bola
itu baru cerita awalnya
belum lagi jika di tengah keasyikan berkutat dengan chart excel
menghitung kebutuhan kancing dan resleting untuk rencana produksi dua bulan ke depan,
tiba-tiba ada kabar buruk menyerang
entah ternyata kardus untuk packing yang kekecilan,
polybag/ kantung plastik yang kepanjangan,
jumlah benang yang ternyata kurang dari perkiraan,
ada saja yang meleset
dan semua orang pun mulai meradang
menyudutkan, menyalahkan

kontras, pemandangan di lapangan hijau itu dengan hiruk pikuk pabrikku
dengan gaji yang tak seberapa jauh berbeda,
tanggung jawab yang kami emban berkali lipatnya

sedikit kesalahan saja, bisa menyebabkan order yang sedang jalan di produksi terhenti
dan akibatnya, kesalahan itu harus diperbaiki segera
entah dengan memesan kembali material-material yang kurang atau salah dipesan,
atau entah dengan rekayasa apa
yang pasti, orderan itu harus bisa dikirim ke luar negeri tepat waktu
jika tidak, maka akan muncul biaya rupa-rupa
sewa tambahan truk, sewa tambahan penyimpanan container di pelabuhan,
atau yang terberat adalah jika si buyer meminta sejumlah diskon atas keterlambatan pengiriman

atau pengiriman melalui udara (by air) dimana kita harus menanggung biaya pengiriman yang

berkali lipat mahalnya dibanding melalui laut (by sea)

yah, tapi itu hanya sepotong cerita dulu
kini, dengan kuasa Tuhan aku dapat menjadi bagian dari pekerja di lapangan hijau itu
ternyata, kepiluan yang pernah aku rasakan
menjadi pemacu alam bawah sadarku
agar entah kapan, suatu saat, tapi pasti, aku harus dapat menjadi seperti mereka

itulah yang kusebut kekuatan sebuah impian
impian, sekecil apapun itu, pasti akan terwujud
entah cepat, entah lambat, bergantung pada perkiraan Tuhan
tapi yakinlah, bahwa Tuhan pasti mencatat semua impian kita
untuk perlahan kemudian mewujudkannya

jangan pernah matikan dan singkirkan impianmu,
karena itu sama saja mengenyahkan satu kemungkinan baik
dan menggelapkan masa depanmu sendiri

bermimpilah, yakinlah, berjuanglah, dan wujudkanlah
karena impianmulah yang akan menuntunmu perlahan pada keadaan saat ini

seperti dikutip dalam salah satu novel terbaik karya anak bangsa milik A. Fuadi yang berjudul “Negeri 5 Menara” :
“Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Man jadda wajada, siapa yg bersungguh-sungguh akan berhasil…”

jadi jangan pernah takut bermimpi kawan!
karena impian adalah langkah pertama
dalam kisah perjalanan panjangmu menjemput sebuah kenyataan

2 thoughts on “dulu sekali

  1. berasa di bawa ke masa lalu….
    meski pun masa kini kita masih berbeda…
    congratulation for u sist…
    n miss u….

    • hei ika..apa kabar..makasi uda mampir kesini yaa..
      yeah, it was our past story, sebuah didikan mahal untuk bisa menjadi kuat seperti saat ini..

      miss u too sist..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s