How my song list will be.

Selamat sore waktu Wageningen. 7.24pm sudah saat ini, sedang menunggu waktu magrib pukul 8.20pm.

 

Di tengah tugas kuliah yang menumpuk, jiwa ini rasanya ingin escape dari kenyataan.

Mendengar lagu-lagu di Youtube cukup mujarab menghilangkan penat.

Apa saja lagunya? Here I go in a random list for this month listening:

Brett Young – In Case You Didn’t Know

Starley – Call On Me (Ryan Riback Remix)

Alessia Cara – How Far I’ll Go (Official Video)

Katy Perry – Chained To The Rhythm (Official) ft. Skip Marley

Clean Bandit – Symphony feat. Zara Larsson [Official Video]

Alok, Bruno Martini feat. Zeeba – Hear Me Now (Official Music Video) | the best so far!

Melanie Martinez – Mrs. Potato Head [Official Video]

 

 

Kenapa saya tiba-tiba ingin menulis lagi?

Simply because I want to frame all the memories I have during my duty as a master student and a mother of two at the same time, abroad, without any help from neither mother in law or nanny like I always have a half year ago.

And here I am now, staring at the sunset over my window while doing my weekly assignment.

 

IMG_4425

Because life is just too wonderful to be ignored by something repulsive.

 

(to be updated)

(anyway, can we listen to this song together? just like the way we used to when we tried to break up the night into pieces by laugh and tears).

Ketika Hidup ini Hanya Menunggu

Lama sekali tidak pernah menyentuh blog ini. Banyak hal terjadi. Up side down.

Sejak bulan Agustus 2016, saya sudah bertolak ke Wageningen, Belanda untuk menempuh pendidikan master di jurusan Urban Environmental Management dibiayai oleh LPDP. Bangga? Pastinya. Tetapi tidak lama, karena setelahnya saya benar-benar sibuk dan tenggelam dalam segala tugas dan ujian.

thumb_IMG_4126_1024

Sudah lama juga saya tidak menulis di facebook. Rasanya di usia kepala tiga ini, curhat di facebook sudah tidak pada tempatnya lagi. Its just a place for the young to shout the world. Not for us to tell the stories.

 

So, here I am now. On my period 5, few months ahead for the Thesis phase. Tidak terasa kuliah sudah hampir selesai. That fast. Tulisan, pikiran, dan omongan saya campur-campur sekarang. Separuh Indonesia, separuh English. Harap maklum, bukan sok-sokan. Hanya saja memang pengaruh lingkungan sangat besar. It forces me so hard.

 

Bagaimana rasanya hidup di Belanda? Nano-nano.

Transportasi yang begitu teratur (hanya dengan mengecek aplikasi 9292 dan bisa tahu jadwal bis dan kereta yang terintegrasi). No air pollution at all. Pernah siang-siang saya nongkrong di terminal, dan hidung saya tidak sesak oleh asap hitam, instead, saya menghirup udara yang sama segarnya ketika membuka jendela rumah.

Less cash. Semua pembelanjaan bisa dilakukan dengan kartu, meskipun hanya 1e. Saya hampir tidak pernah bawa uang cash. Ribet.

Kemana-mana naik sepeda. Tetapi jangan mimpi bisa kurus hanya dengan naik sepeda. Karena suhu yang cukup dingin membuat kita jarang sekali berkeringat dan harus ada usaha ekstra untuk bisa menurutkan berat badan yang sungguh menjadi tantangan. Banyak anak muda do their sports at the gym, tetapi sesuatu yang no no untuk emak-emak seperti saya. Better at home, cuddling with my kiddos and struggling in front of my paper.

Mahal untuk produk Asia (cabe, nanas). Murah untuk produk lokal (keju, susu).

Toko favorit: Jumbo untuk beli beras dan sayur segar, Lidl untuk beli susu anak dan buah segar dan roti, Hoegvliet untuk pampers dan kopi gratis dan anak-anak bermain games, Action untuk mainan, buku, sabun anak, dan pecah belah, Indrani untuk telur dan cabe pedas, Zamzam untuk daging sapi, ayam, cabe bubuk, dan tulang domba.

Tempat belanja favorit: Eindhoven. Zara-nya banyak diskon! Toko Orientalnya cukup lengkap.

Dari Paris, Jerman, Italia, Belgia, dan Belanda tentunya, mana yang paling favorit? Italia! orangnya begitu ramah dan helpful. Mana yang least favourite? Jerman. Dont ask me why. Just experience it yourself.

 

Bersambung. Tiga paper sudah menanti untuk segera diselesaikan sebelum deadline.

——————————————————————-

 

Wageningen, The Netherlands. Lente kom.

31 Maret 2017. Happy (belated) birthday to me.

Info Kapal Penyeberangan Bangka – Belitung

Kemarin saya kedatangan tamu rombongan dari Semarang.
Anak kuliahan yang sedang memanfaatkan waktu liburan dengan rehat sejenak dari urusan bedah mayat atau hafalan obat.

Itinerary mereka simple :
Sehari di Bangka (Pantai Parai, Tanjung Pesona, Pasir Padi, Museum Timah) dan sisanya di Belitung biar puas bermain air

Beda dengan kakak saya, yang berbekal internet, selama liburannya di Pangkalpinang meminta untuk diantarkan ke:

Wisata Kuliner
1. Tung Tau
2. Mie Koba
3. Martabak Bangka
4. Kue Jongkong
5. Pantiyaw
6. Selada, tekwan, dan rujak soun (ini tambahan usulan dari saya)
7. Lempah Kuning
8. Kerupuk/ kemplang
9. Kue Rintak
10. Getas
11. Laksa
12. Otak-otak
13. Dodol cempedak
14. Pempek

Wisata Sejarah
1. Masjid Jamik dan Kelenteng Kungfuk
2. Wisma Menumbing (Muntok)
3. Gedung ex. Kawilasi Timah
4. Perigi Pekasem (ini nama apa sih, tidak familiar)
5. Rumah Residen
6. Museum Timah
7. Rumah Mayor (Muntok)
8. Makam Pangeran Pakoeningprang

Di luar itu, ingin juga main ke Pulau Kepayang seperti disarankan oleh rekan kerjanya. Padahal pulau itu terletak di Belitung.
Saya sarankan untuk ke Pulau Bidadari/ virgin island saja, yang hanya perlu menyeberang 15 menit dari Pantai Penyusuk yang berlokasi di Belinyu.
Sayang, ketika kami sampai disana cuaca sedang tidak bersahabat. Ombak sangat tinggi sehingga tidak ada kapal yang berani berlayar.

Saya juga coba mengajak mereka untuk menyeberang ke Pulau Ketawai, yang memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk menyeberang dari Kurau (Koba).
Lagi-lagi, cuaca juga urung untuk berdamai dengan kami, karena laut sedang surut. Dan harga sewa kapal juga cukup pricey, 800k PP yang bisa diisi 15-20 orang.
Well, back to teman saya yang dari Semarang.
Jadi, job desk saya sebagai tuan rumah adalah sebagai berikut:
1. Pesan mobil carter (tinggal bisik ke suami)
2. Pesan hotel (checked)
3. Survei harga tiket dan jadwal kapal penyeberangan Bangka – Belitung (checked)

Untuk hotel, rata-rata hotel disini pasang rate 700k, tetapi jika kita meminta harga corporate biasanya akan diturunkan harganya, bahkan ada yang turun hingga 50%.

Sebagai referensi, Hotel Puncak (terletak persis di atas supermarket Puncak, salah satu supermarket favorit penduduk lokal) memiliki rate 350k untuk harga corporate, selisih 350k dari published rate.
Begitu juga dengan Sun Hotel, hotel yang dibawahnya terdapat warung kopi Tung Tau, salah satu kedai kopi ternama disini.

Saya memilih Sun Hotel, karena dengan harga kamar Superior, masih bisa ditambah dengan extra bed 150k.
Beda dengan Puncak yang kamar Superior-nya cukup sempit sehingga harus pesan Deluxe jika ingin memakai extra bed.

Lalu untuk penyeberangan Bangka – Belitung, saya mencoba survei ke pelabuhan Pangkalbalam.
Dan ternyata tiket kapal bisa dibeli di agen tiket yang terletak di luar kawasan pelabuhan.

Saya sempatkan mengambil foto mengenai info jadwal penyeberangan, harga tiket kapal dan kontak person agen tiket.
Barangkali ada yang berminat untuk berwisata ke Bangka Belitung, semoga info ini bermanfaat.

IMG_1982

IMG_1987

IMG_1984

IMG_1986

Selamat berlibur!

Catatan : tidak direkomendasikan untuk berlibur di Bangka Belitung pada saat musim hujan, karena kemungkinan besar kapal tidak akan beroperasi.
Air pantai juga tidak kristal (bercampur dengan lumpur).

sapi

I was busy uploading my doodling to the Instagram when suddenly the teacher pointed out at me and my friend. He said that playing hand phone during the lecturer is giving the presentation is absolutely rude. Australian students never did that.

Oh well. I am truly sorry sir.

I succumbed from headache. I just could not listen to what you say.

But at least I never plan to apply for an Australian permanent resident.

Why to leave Indonesia while half of our bloods are compound of the soil formed from this fantabulous country.

Oh well again.

I am not an Australian student, sir. Not yet.

 And you, hey you there.

Look at the star and see me smiling at you down there.

|| Djakarta, Dec 2 2014 ||

= the bottommost part of the day =

1932386_10152717511332459_8272987404989813212_n

Hari terakhir di apartemen. Akhirnya, setelah tiga bulan berjibaku antara Puri Kembangan-Pesanggrahan, yang seperempatnya ditempuh dengan berjalan kaki demi menghemat dompet aka. menghindari tagihan abang angkot sebesar 3k yang kalau ditambah 3k lagi udah dapet bubur ayam super sedap belakang sekolah :D, kisah indah ini harus diakhiri juga.

Bener kata Cita Citata, ada awal pasti ada akhir. Sakitnya ya disini *tunjuk kaki mengagumi sepatu baru.

Awalnya pengen tinggal di apartemen sebenernya sederhana aja. Taon lalu, ada temen seruangan yang lagi ikut kursus EAP juga. Tus dia bilang, ada temen dia dari daerah yang sewa apartemen di deket sekolah. Dan dia bilang “keren banget buat kursus aja nyewa apartemen”. Dan dengan begonya kata itu terus terngiang di telinga *toyor mas Heru. Apanya yang keren ih.

Heran, kenapa kata itu yang harus berkelana di alam fana. “Tinggal di apartemen = keren”. Kenapa ngga “taon depan dapet beasiswa”. Atau, “anak gw bakal nikah sama bule Eropa rambut pirang mata biru”. Nah itu kan baru keren.

Nah ya, karena merasa dari daerah juga, langsung deh di kelas cari mangsa siapa yang mau patungan nyewa apartemen biar bisa dapet murah. Alibinya, “cari kosan di daerah sini susah lho. Banyak yang penuh. Kalopun ada ya gitu, kamarnya kecil, ga pake AC, kebersihannya jauh dari standar, mahal lagi. Bahkan tikus suka keliaran di pintu gerbang lho!”. keh keh keh, modal eavesdrop percakapan orang tapi cukup gahar untuk nakut-nakutin orang kan?

Well hey, dan yang kena racun adalah anak Depok dan anak Bekasi. Tunggu, Bekasi? Well, she came from another planet as a matter of fact. Hush. Somehow, ternyata si bocah Depok adalah dari Kementerian, sama dengan saya, dan ternyata si anak Bekasi adalah orang Jowo yang suaminya tinggal di Pangkalpinang, juga sama dengan saya. Jadi? Kami seperti ada benang birunya.

Awalnya sulit beradaptasi. Si bocah Depok (sebut saja Pok) dan si bocah Bekasi (Bek) punya karakteristiknya sendiri-sendiri. Yaiyalah. Sodara bukan.

Si Pok seneng banget main game online, apa tuh ga tau, yang isinya geser-geserin batu. Dia punya tablet yang mostly untuk main itu game sama buka fesbuk sama browsing kisah-kisah sedih di hari senin. Jam 9 malem uda molor. Belajar jarang. Tapi skornya amazing. Baru kali ini liat ada orang yang bisa sukses tanpa berusaha. Sepertinya dalam tidur dia mimpi baca kamus yang somehow keinget sampe dia bangun. Makanya vocab-nya buanyak.

Kalo si Bek beda lagi. Dia rajiiiin banget belajar. Sumpah, baru kali ini deh liat orang se-tenacious itu. Tiap nyampe apartemen, langsung buka buku. Dipantengin tuh buku sampe jam 11 malem. Nanti jam 4.30 uda kebangun lagi untuk mantengin buku. Sampe mukanya uda kaya rumus grammar, complicated. Ga deng ah, berlebihan ini mah.

Singkat cerita, hari ini test terakhir. Selesai sudah semuanya tentang kita. Meski minggu depan masih ada kelas, kayanya uda pada males-malesan untuk masuk deh. Besok uda ngangkutin barang kembali ke kampung depok. Senin uda mulai berangkat lagi dari kampung, males banget kalo inget tiap subuh harus berjibaku dengan serombongan wanita ganas lainnya demi untuk bisa masuk terangkut dalam gerbong wanita. Rasanya pengen beli iphone 6. Atau macbook pro. Aduh, apple-prone banget ya.

Well, hidup memang harus gitu kawan.

Ketika berani memulai, ya harus berani mengakhiri.

Singkat cerita, bahagia dengan pengalaman yang ada. Nambah pengalaman dan nambah saudara, khususnya si Pok dan Bek ini yang paling spesial deh, pake pepperoni sama Swiss cheese, medium rare pake saos mushroom sama barbeque. Damn kapan mau nge-Holicow lageeeh?

Dadah kolam renang yang belum pernah kurenangi.

Dadah alphamart yang selalu setia menyajikan sariroti dan Cavendish banana dan isi pulsa Bolt.

Dadah indomaret yang mbak menornya jutek abis kayak dapet menstruasi dua bulan berturut-turut.

Dadah pak satpam yang ambon manise tapi sayang tak ramah sama sekalihe

Dadah ibu nasi uduk yang kalo jualan leletnya kaya gerakan slow-motionnya X-man

Dadah angkot 03, 10, 48, 14, dan kopaja 16 yang selalu setia mengantar dengan myuzik diskonya

Dadah puri mall sama citraland, dua tempat semedi paling ampuh kalo uda surpassed the level of mumet after being awarded as the worst writer of the day.

By EAP Bappenas at Inlingua 2014.

Thank you for giving us such this precious opportunity not only to enhance the knowledge but also to build the capability of socialize, something that has been forgotten recently.

DJAKARTA2014.

Steven – Jarot – Alvan – Bergas – Fazar – AdHi – Diding – Restu – Kisa – Ade – Leny – Reni – Mita – Hidia – Nurul Ae – Afry – Citra – Nurul Putri

seperti berabad sudah lamanya

ketika terakhir kali kita berjumpa

apa kabarmu disana?

maaf aku belum juga bisa menepis rindu yang berjelaga

akankah kita menua dengan perasaan yang masih tetap sama?

.:: Brain Lesion ::.

First of November. 2014.
Saturday night.

I did my first IELTS test.
The real one.

Finally. It was done.

In a nutshell,
Listening section? I stood still.
Everything was seems so bright.

Reading section? Easier in fact.

Writing section? Well, my hands started shaking.
I could not focus. I lose my consciousness.
I thought i failed.

Speaking section? I did mess up.
At the last two practice speaking test, i did so well.
I even got 7 from the real examiner.

But today?
I got question about “who you find the job is interesting”.
And I could not find any other than a pilot.
My favorite vocation, though.

I ended my spoke at 1.21 when it was supposed to be at 2.00 sharp.
The examiner asked me to add some more words.
And I had no cue.

God.
I hope i did well.
I hope this three months practicing was worth-ed.
Amin.

I felt higgledy-piggledy.

++++++
2015 resolution : get a Macbook Air!